Surat Cinta Untuk Para Pencari Kehidupan

Bagi sebagian orang, hari minggu merupakan hari melampiaskan rasa lelah yang mereka tumpuk dalam enam hari kebelakang. Pelampiasan dengan cara yang berbeda tentunya, ada yang menghabiskan waktunya bersama keluarga, ada yang menggeluti kembali hobinya yang sempat ia korbankan untuk sebuah kewajiban, ada yang menyiapkan segala keperluan untuk hari terkutuk sedunia (begitu kata beberapa orang untuk menyebut hari Senin) atau meniduri waktu untuk terlelap bersama mimpi-mimpinya, hanya mimpinya. Untuk sebagiannya yang lain, hari minggu merupakan hari dimana Tuhan membagikan rezeki besar-besaran. Peran dari sebagian orang seperti ini yaitu kalian, para pedagang di pasar tumpah salah satu contohnya.

Hari Minggu ini, ada acara keluarga yang tidak direncakan tapi berhasil terlaksana. Haha bukankah lebih asik seperti itu? Tidak ada sepik. Rumah uwa ku yang dijadikan tempat untuk berkumpul di daerah Cijambe. Setiap hari minggu di jalanan menuju rumah uwa memang selalu ada pasar tumpah. Wah, benar-benar tumpah semuanya di sana. Kalian, para pengunjungnya, barang dagangan kalian, ojeg-ojeg yang mencari target seseorang yang membawa banyak belanjaan sampai mobil yang seharusnya tidak melewati jalanan itu. Super ramai! Tapi menyenangkan rasanya berbaur seperti ini ketimbang tidur terus sampai siang. Cijambe itu daerah gunung, jadi perjalanannya pun memang naik turun, nah pasar tumpah ini pun berserakan di jalan yang jalanannya menanjak, ya kira-kira 60 derajat kurang lebih tanjakannya itu. Jadi, untuk jalan pagi sambil olahraga memang cocok sekali.

Kalian ini memang luar biasa ya. Pasar tumpah ini dibuka dari jam 6 pagi atau mungkin kurang dari jam enam. Rumah kalian memang ada yang tinggal di daerah sekitar situ kan ya, tapi persiapannya pasti membutuhkan waktu yang lebih lama. Misal untuk yang menjual bubur saja, kalian harus memasak beras untuk dijadikan nasi kemudian dihaluskan lagi menjadi bubur bisa dari jam tiga subuh, ah atau kurang dari jam tiga pagi. Berapa banyak pengunjung yang datang ke pasar tumpah itu mungkin seratus lebih, kalian pun ya harus menyiapkan seratus porsi. Belum lagi membuat bumbu-bumbunya, pelengkap buburnya, lauknya. Menurutku itu keren sekali.

Dalam perjalanan aku melihat barang-barang atau jasa kalian yang diperjualbelikan untuk memenuhi kebutuhan hidup atau sekedar hobi berbisnis. Makanan untuk sarapan, pakaian-pakaian, hewan peliharaan, ATK, peralatan dan bahan favorit ibu-ibu di dapur atau yang sedang hits kembali yang menjual cincin batu. Banyak sekali ternyata peminatnya, sukses ya pak. Asal jangan bodohi kami, para pengunjung untuk mempercayakan cincin batu itu bisa menyembuhkan penyakit atau yang lainnya. Langkah demi langkah sambil menuruni jalanan ada satu yang membuatku menarik. Pria sekitar umur 30 tahunan menjual poster-poster ukuran A2 yang menggambarkan klub sepak bola, tokoh fantasi luar negeri sana sampai artis-artis lokal yang sedang bertransformasi menjadi harimau itu. Jadi ingat masa kecil SD dulu, biasanya poster-poster itu kartun, para pemain Amigos, Carita de Angle, ah atau juga para penyanyi yang menuju puncak itu. Oke sebenarnya yang membuatku menarik bukan itu, tapi barang dagangannya pria itu selain poster, yaitu alat penimbang. Beliau menawarkan bisa berupa barang bisa juga jasa. Di sebelah timbangan digital itu tertulis Rp 500. Wah, baru lihat aku yang begini. Aku pun ingin mencobanya dan hasilnya cukup memuakkan haha.

Setelah ditimbang dan berbincang dengan beliau, ternyata bisnis seperti ini dari dulu sudah ada. Sudah ada sejak zaman Soeharto katanya, bedanya kalau dulu orang yang menawarkan informasi berat badan seseorang melalui media timbangan ini berkeliling dari rumah ke rumah. Sekali lagi, ini bisnis yang keren. Sederhana tapi menghasilkan. Ya, sekedar untuk tambah-tambah keperluan sehari-hari, katanya. Jika penjualan poster ini tidak begitu laku, bisa ditambah dengan uang Rp 500 ini. See? Lima ratus rupiah menjadi sangat berharga, menjadi sekoin perak yang berharap bisa menopang hidupnya yang sudah tidak punya siapa-siapa lagi bagi orang seperti beliau ini. Keterbatasan hidupnya berubah menjadi inisiatif untuk merubah hidupnya menjadi harapan-harapan yang ia panjat dalam doa. Usahanya yang menurutku kecil menjadi pijakan untuk melompat mencari kebahagian hidupnya.

Untuk para pencari kehidupan, aku termotivasi dari kalian. Semoganya kalian menjadi semoga-ku juga untuk meminta kepada Yang Maha Pengasih.

Terima kasih untuk ceritanya, Pak.

Bandung, 1 Februari 2015

09:39 PM

#30HariMenulisSuratCinta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s