The First Assumption

Rumah sakit. Satu tempat yang paling aku benci karena bau obat-obatnya yang semerbak mengelilingi seluruh kawasan tempat ini. Mau tidak mau aku harus pergi ke tempat seperti ini karena ini salah satu keinginanku, usahaku serta kedua orangtuaku. Ibu dan adikku menemani ke rumah sakit ini, dengan mengikuti petunjuk dari plang berwarna biru yang menunjukkan bahwa Klinik Tumbuh Kembang berada di arah barat pintu masuk. Kakiku ingin berhenti tapi satu sisi lain aku harus terus maju ke dalam sana. Kami menaiki tangga kemudian sampailah di sebuah ruangan berdinding cat putih dengan hiasan stiker dinding  berbentuk bunga, burung lengkap dengan sangkarnya. Serta ada beberapa kursi yang bersambung seperti biasa dilihat di rumah sakit pada umumnya dan apotek dilengkapi dengan mejanya, untuk menunggu giliran panggilan, kami duduk di sana. Kebetulan kosong.

Kemudian ada empat ruangan di sana, ruang pertama pintu itu ditutup dan yang kutahu pintu itu dikunci karena salah satu perawat memasuki ruangan itu dengan membukanya dengan salah satu kunci yang berada di tangannya. Ruangan kedua, yang ku dengar ada tangisan anak kecil yang seperti kesakitan dan kuintip ternyata ruangan itu seperti ruang untuk terapi berjalan atau semacamnya untuk usia anak lima atau sampai sepuluh tahun mungkin. Ruang ketiga mungkin adalah ruang para perawat mengumpulkan semua data, berkumpul atau mungkin bisa jadi ruang istirahat. Bisa jadi. Ruang terakhir, ruang yang akan aku masuki, Ruang Psikologi. Deg-degan? Tentu saja.

Sekitar sepuluh sampai lima belas menit aku menunggu giliran untuk dipanggil. Akhirnya, kenop pintu itu terbuka,

“Talitha, masuk.”

Dokter psikolog ini akan menjadi pendampingku di beberapa minggu atau bulan ke depan, itu jika keadaanku memang perlu penanganan ekstra. Dalam ruangan itu ada lima orang, aku, Ibu, adikku, dokter psikolog dan terakhir mungkin seorang psikolog juga, hanya saja beliau tidak duduk di depanku melainkan di belakangku siap dengan pulpen dan buku yang akan dicatat. Mencatat apa? Aku pun tak tahu, mungkin beberapa cerita yang akan aku lontarkan, atau gestur tubuhku, atau cara pengucapanku, atau entahlah.

“Jadi, ada yang bisa dibantu Talitha? Ada masalah apa?” tanya dokter yang berada di depanku. Aku bingung, aku canggung, ada Ibu sini. Tanpa diminta dan sepertinya beliau sudah tahu ini akan terjadi beliau langsung berkata,

“Ibunya mau keluar dulu aja? Iya, nggak apa-apa.” Ibu pun keluar bersama adik. Jadi, di ruangan itu tinggal kita bertiga. Beliau kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Mungkin hanya lima belas atau dua puluh menit kurang aku bercerita tentang permasalahanku. Yang namanya curhat atau istilah kedokterannya konsultasi, aku bercerita sambil menangis. Rasanya seperti menumpahkan rasa yang belum pernah aku ceritakan pada siapapun. Rasanya hanya aku orang yang mempunyai beban yang sangat berat. Tapi, cerita yang aku ucapkan pada beliau itu hanya baru sebagian kecil permasalahanku. Sayang sekali belum semua cerita, belum semua beban, belum semua keluhan, belum semua kejanggalan diri ini yang aku luapkan. Sekali lagi, aku bukan orang yang pandai bercerita. Untuk mendeskripsikan diri saja begitu sulit.

Dari cerita yang beliau dengarkan, beliau menyimpulkan bahwa aku sudah termasuk ke dalam stress yang sudah lumayan berat. Jika saja tidak ditangani, sedikit lagi disimpulkan aku akan mengalami depresi. Dalam hatiku, “tolong, masih ada yang ingin aku sampaikan.”, tapi rasanya seperti lidah ini menyumpal kata-kata yang ingin aku luapkan. Akhirnya, dokter itu bilang,

“Talitha harus belajar terbuka sama orang lain ya…. sekarang boleh Ibu ngobrol dulu sama Ibunya Talitha?”

Aku hanya mengangguk. Perasaanku campur aduk, takut, sedih, kesal, kecewa-takut. Giliranku yang menemani adik di luar, Ibu yang masuk ruangan. Dokter akan bilang semuanya ke Ibu. Itu tandanya aku kembali akan menyalahkan diri sendiri lagi. Aku takut. Sepuluh menit berlalu, aku diminta untuk memasuki ruangan lagi. Saat itu, aku sangat merasa canggung. Aku benar-benar ingin memeluk Ibu dan meminta maaf. Tapi aku menahannya. Takut. Selalu ada perasaan itu. Aku sangat membenci perasaan takut yang berlebihan itu.

“Senyum dong, Talitha. Semangat ya. Ibu udah cerita ke Ibunya Talitha apa yang udah Talitha ceritain. Ibu nggak marah kok. Sekali lagi, Talitha yang harusnya bisa lebih terbuka sama Ibu atau Ayah. Kalau dipendem sendiri ya kayak gini. Malah nyakitin diri sendiri. Setelah ini, Talitha akan dijalani tes-tes ya. Tenang, nggak berat-berat kok. Santai aja ini mah. Ingin sembuh kan? Siap?” kata dokter psikolog sebelum pulang.

Hanya anggukan lemah yang bisa kulakukan saat itu. Bukan karena tak ingin disembuhkan oleh beberapa tes. Tapi, ku mohon ada yang masih mengganjal di diri ini yang ingin aku keluarkan tapi sulit sekali! Tanpa keberanian aku melontarkan sesuatu itu akhirnya kami pulang. Aku menyesal. Lagi-lagi rasa bersalah itu memelukku.

“Dengarkan aku, tolong!”

Perjalanan pulang, ya memang ada sedikit kelegaan yang aku rasakan. Bagaimana tidak, keganjilan selama kurang lebih dua tahun ini baru aku keluarkan sekarang. Dan baru hanya sebagian kecil. Aku harap, di pertemuan berikutnya, aku bisa memberanikan diri untuk mengungkapkan seluruhnya keadaanku yang sebenarnya. Karena aku ingin sembuh.

Senin, 8 Desember 2014

20:19 WIB

Advertisements

One thought on “The First Assumption

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s