Buku itu telah usang. Bukan karena rusak. Usang akibat terlalu banyak kisah yang terukir di sana. Kisah dimana sebuah persahabatan menjadi makna lain. Kisah dimana dua hati yang menggilai arti sebuah kasih sayang. Kisah dimana dua hati mendapatkan kebahagiaan dari cinta.

Dan ini terakhir kalinya, aku menulis kisah di buku itu. Sebenarnya masih banyak kertas kosong di sana. Tapi, rasanya tidak akan ada kebahagiaan lagi di sana. Meskipun sebenarnya pengharapan masih menyala. Redup.

Buku itu memang telah usang. Biarlah buku itu usang. Agar aku tidak dapat membukanya lagi. Aku tidak mau merusaknya. Juga aku tidak mau mengenang kisah yang ada di dalamnya. Jadi, biarlah buku itu usang! Biar aku simpan saja buku itu di dalam ruang yang paling gelap. Dalam. Luas. Dan tercampur dengan buku-buku usang lainnya yang sudah tidak aku anggap. Agar aku sulit untuk mencarinya. Hingga akhirnya aku dapat melepasnya.

Buku usang itu sudah tidak ada. Buku usang itu harus digantikan. Agar aku bisa menuliskan lagi kebahagiaan-kebahagiaan lainnya. Karena setiap manusia. Perempuan, butuh kebahagiaan dari makna cinta. Berharap, buku yang baru itu  bisa diisi dengan kebahagiaan yang lebih bermakna.

Tapi, tidak akan pernah aku lupakan kalau buku yang sudah usang itu pernah diisi oleh kisah kebahagiaan. Terima kasih.

Advertisements

One thought on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s